Breaking News

Papua : Perempuan dan Pasar


  'Petani Perempuan di Kabupaten Jayapura'

-Dalam rangka hari Tani Nasional, 24 September 2023-

Berdasarkan kisah nyata

Oleh Cinta G

Foto Doc: Sekolah Alternatif Papua titik II, Waena 2021

 “Adoh sa pu jualan, adoh sa pu jualan… Tuhan Yesus tolong, Tuhan Yesus tolong, kenapa eee, ada orang yang jahat seperti ini?”, Teriakan seorang pedagang sayuran di Pasar sentral Youtefa, Abepura, Jayapura. Tampak beberapa tumpukan sayur yang diletakkan beralaskan karung beras bekas dipenuhi lumpur. Lumpur tersebut berasal dari kubangan di jalan, persis samping terminal Youtefa. Pedagang tersebut yang sering disapa mama Sarlota tidak menyangka bahwa lumpur di dalam kubangan tersebut akan terciprat ke barang dagangannya, barang dagangan yang telah dipersiapkan sejak kemarin sore. 

28 November 2018 mama Sarlota menangis di bawah terik matahari, tangisan mama di tengah keramaian Pasar Youtefa. Mama tidak dapat berbuat apa - apa untuk membersihkan sayurnya yang terciprat lumpur jalanan. Mama juga tidak berdaya ketika seseorang menggunakan mobil, dengan plat merah melaju kencang sehingga ban depan dan belakang mobil melindas kubangan jalan yang berisi lumpur. Kubangan tersebut tepat berada 2 meter dari tempat mama berjualan.

“Tuhan…., Kasih turun hujan k…, sa su sangat menderita disini, kenapa ada musibah ini lagi? Tuhan… ambil manusia - manusia rakus di tanah ini, pu nyawa k… supaya dong tidak sombong dengan mobil dinas, dan kekayaan dari hasil pancuri” kalimat yang diungkapkan mama Sarlota ngepas-ngepasin sayurannya agar lumpur tersebut tidak tertempel pada sayuran.

Mama sarlota mulai menghapus air mata dan berharap hujan kembali turun, mama berharap hujan tersebut membasahi sayurannya sehingga Ia tidak perlu ragu untuk mendapatkan air, sebab air di Pasar Youtefa sangat terbatas, adapun air hanya terletak di kamar mandi umum, untuk akses kamar mandi setiap orang harus membayar, sedangkan sayuran mama Sarlota belum ada yang laku sejak pagi (06.00 WIT) mama berjualan. Mama berharap selokan (got) yang terletak tepat dibelakangnya dipenuhi air bersih sehingga mama dapat membersihkan sayurnya, tapi mama menyadari bahwa itu hanya impian yang tidak akan pernah terjadi selama republik ini masih berada di Papua. 

Air mata terus mengalir membasahi pipi mama Sarlota, seorang pedagang kecil di Pasar Youtefa yang tidak mampu membayar uang sewa lapak/ kios di Pasar. Pikiran mama jauh teringat masa kecilnya di tahun 1954. Mama selalu menemani Ibunya berjualan di Pasar Lama, pasar dekat Kamkey (kampung Key). Mama teringat kondisi pasar yang bersih, pasar yang saling menghargai satu sama lain, pasar adalah tempat menyapa satu sama lain, pasar adalah tempat saling menghargai. Ingatan mama masih sangat kuat ketika setiap pagi selalu ada yang menyapa dan bersalaman.

“Mama ini kangkung satu ikat berapa?” kata seseorang di depan tempat jualannya, membuat mama Sarlota kaget dan bertanya kembali. “Nona tanya sayur berapa?” sahut mama Sarlota, “iyo mama” kata seseorang calon pembeli, “Kangkung satu ikat Rp 10.000,- saja“ sahutan mama Sarlota. “ Sa ambil tiga yah mama” jawab pembeli tersebut, mama kemudian membungkus tiga kangkung yang dipilih oleh pembeli tersebut kemudian melakukan transaksi pembayaran. Tiga ikat kangkung memberikan mama sedikit pemasukan, sedangkan mama memiliki 5 ikat yang belum terjual. Mama Sarlota kembali duduk dan menunggu agar jualan mama dapat terjual.

Tepat 14.47 WIT mama Sarlota belum juga mendapatkan pembeli meskipun mama sudah menunggu sejak pagi di Pasar Youtefa. Mama Sarlota harus bergegas pulang agar tidak kemalaman, sehingga dapat menyiapkan makanan untuk keluarganya di Waris, Kabupaten Keerom. Mama sejak kecil bersama keluarganya telah tinggal di Waris. Mama Sarlota juga berasal dari Waris. Distrik Waris jauh dari Pasar Youtefa, Jarak dari Pasar – Waris di tempuh selama ± 3 jam atau lebih menggunakan kendaraan umum (sebutannya : taxi).

 Mama mulai mencari pembeli pakan ternak babi di Pasar, biasanya pembeli pakan ternak babi membeli sayur-sayur yang tidak terjual di Pasar, dengan harapan ada sedikit tambahan uang untuk pulang ke Waris. Jika mama menjual kepada pembeli pakan ternak babi, mama hanya dihargai Rp 4.000/ ikat, sehingga 6 ikat mama memperoleh Rp 24.000. Mama Sarlota berhasil menjual 6 ikat ke pembeli sayur untuk pakan ternak babi, sisa 1 ikat sengaja ditinggalkan untuk santapan makan malam di rumahnya. 

16.00 WIT kendaraan umum (taxi) menuju Pasar Youtefa - Waris berangkat. Mama tertidur pulas di pinggiran jendela taxi, mama tidak peduli dengan suara bising kendaraan tersebut. Angin sore itu seakan membuat mama lupa tentang kejadian tadi siang yang menimpanya. Suara derasnya hujan membangunkan mama Sarlota di tengah jalan menuju Waris, kabut tiba-tiba menyelimuti jalan itu. Mama kembali meletakan kepadanya pada kaca jendela taxi dan kembali tidur. Tepat 17.58 WIT kendaraan umum (taxi) yang ditumpangi mama Sarlota ditabrak truk angkutan kelapa sawit di jalan menuju Waris. Depan Taxi hancur, sopir meninggal di tempat, mama terlipat kursi-kursi di jok belakang mobil.  Bercak darah membasahi noken yang berisi satu ikat kangkung dan uang hasil jualannya. Sekilas mama melihat seseorang mencoba menyelamatkannya, namun darah Mama Sarlota telah memenuhi lantai taxi tersebut, hingga mengalir ke jalanan di Koya. Mama Sarlota menghembuskan napas terakhir di dalam taxi yang ditumpanginya bersama 1 ikat kangkung dan uang sebesar Rp 54.000. 

Mama sarlota adalah satu dari ribuan perempuan di dunia yang berdagang di pinggir jalan. 

Mama Sarlota adalah satu dari ratusan pedagang perempuan Papua yang jualan di pinggir jalan.

Mama Sarlota adalah satu dari puluhan pedagang perempuan Papua yang berjualan di Pasar Youtefa, Abepura Jayapura. 

Mama Sarota adalah korban dari kekerasan perdagangan yang berbasiskan modal, modal besar akan menyikirkan modal kecil (baca : kapitalisme). Mama Sarlota tidak memiliki modal yang besar untuk menyewa satu lapak/kios di Pasar Youtefa, jualan yang ditawarkan mama adalah sayuran yang dipetik langsung dari kebunnya. Mama Sarlota dapat menjual ke Pasar bila memiliki uang yang cukup untuk membayar ongkos taxi. Sehingga tidak setiap hari mama dapat ke Pasar. Mama Sarlota tidak memahami proses regulasi pasar dan manajemennya, sehingga mama hanya diam ketika menderita seperti itu. Mama juga tidak mengerti.


Mengapa ada pemekaran kabupaten keerom?
Mengapa pasar dipindahkan?

Mengapa kondisi pasar seperti itu ?
mengapa perusahaan kelapa sawit merampas tanahnya?

Mengapa TNI lebih banyak dibandingkan manusia Papua?
Mengapa semakin hari, kehidupan mama dan keluarganya semakin susah?

Sejak dulu orang tua mama Sarlota berjualan di Pasar Lama, hingga kini mama masih berjualan di Pasar, hanya saja dahulu kondisinya lebih baik dibandingkan dengan hari ini. Mama kebingungan
Siapa yang harus bertanggung jawab ?
siapa yang harus dituntut? 

Mama hanya petani dan pedagang kecil yang lahannya di rampas oleh Perusahan Kelapa sawit di Keerom. 

Mama Sarlota adalah korban kekerasan Militer Indonesia di tahun 1962-2018 dituduh Separatis. Mama Sarlota harus kehilangan orang tua dan adik-adiknya saat mama berusia 17 tahun, yang diingat Tentara Nasional Indonesia (TNI) membawa senjata dan mengarahkan semua masyarakat ke lapangan kampung, semua orang tua dibunuh mati, kebanyakan laki-laki, kemudian beberapa perempuan-perempuan muda diperkosa di tengah lapangan. Tidak hanya diperkosa namun dipaksa meminum sperma pemerkosa di depan penduduk kampung, sebagai bentuk penghinaan terhadap manusia lainnya khususnya perempuan.  

Hal ini menjadi masa kelam mama Sarlota hingga kini, trauma tersebut membuat mama memilih diam dan menjalani kehidupan sebagai petani dan pedagang serta merawat anak-anaknya, hingga kini mama pergi tanpa ada salam perpisahan kepada kelurgannya. Berlanjut……



Tidak ada komentar